Tinjau TWA Pancuran 13, Ketua MPR RI Ahmad Muzani Dorong Pemulihan Wisata Guci Tegal
Ahmad Muzani menegaskan pentingnya koordinasi lintas pihak: pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga Perhutani.
TEGAL – Lumpur masih tebal, bebatuan berserakan, dan aroma tanah basah menyelimuti kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 Guci Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Beberapa hari lalu, banjir bandang datang tanpa ampun, merusak jembatan memutus akses jalan, dan membuat aktivitas warga lumpuh.
Namun di tengah kehancuran itu, ada sesuatu yang tak bisa dihancurkan: semangat gotong royong masyarakat.
Di Desa Guci Kecamatan Bumijawa dan Dukuh Pekandangan Desa Rembul Kecamatan Bojong warga tampak sibuk membangun jembatan darurat dari bambu.
Tak megah, tak permanen, tapi cukup untuk menghubungkan kembali kehidupan sehari-hari mereka.
Senin (16/2/2026), perhatian terhadap perjuangan warga ini datang dari tingkat nasional. Ahmad Muzani, Ketua MPR RI periode 2024–2029, bersama rombongan meninjau lokasi terdampak.
Didampingi Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman dan Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid, Muzani menapaki jembatan bambu hasil karya warga dan menyapa mereka satu per satu.
Kehadirannya bukan sekadar seremonial; bagi warga, ini adalah tanda bahwa suara mereka didengar.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Muzani menegaskan pentingnya koordinasi lintas pihak: pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga Perhutani. Bahkan rencana penanaman pohon di kawasan hulu menjadi salah satu upaya mencegah banjir di masa depan.
“Saya melihat langsung kondisi ini dan harus segera ditangani. Negara tidak boleh tinggal diam,” kata Muzani.
Ia menekankan rehabilitasi infrastruktur agar permanen, sekaligus memulihkan Wisata Guci sebagai destinasi wisata unggulan yang menjadi sumber ekonomi warga.
Kunjungan Ahmad Muzani Ketua MPR RI ini tidak berhenti di Pancuran 13. Sebelumnya, ia meninjau Jembatan Ekoproyo di Desa Bengle, Kecamatan Talang, yang putus akibat derasnya arus Sungai Gung.
Jembatan itu menjadi akses vital bagi mobilitas dan ekonomi warga. “Masyarakat berharap jembatan ini segera dibangun kembali,” ujar Muzani.
Selanjutnya, ia menuju Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, yang terdampak tanah bergerak. Berdasarkan kajian geologi, area ini tidak stabil untuk hunian, sehingga pemerintah menyiapkan langkah mitigasi dan lahan relokasi.
Di Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, telah disiapkan lahan relokasi seluas lima hektare untuk penanganan jangka panjang bagi warga terdampak.
Meski pemulihan fisik belum sepenuhnya selesai, semangat warga tumbuh lebih cepat daripada lumpur yang menyelimuti. Dari bambu dan puing, muncul solidaritas yang menjadi penopang utama.
Setiap tawa, setiap tetes keringat warga di atas jembatan darurat itu menegaskan satu hal: mereka tidak menyerah pada bencana.
Suasana di Pancuran 13 Guci kini menjadi campuran antara kehancuran dan harapan. Suara gemericik air dari pancuran alam masih terdengar, burung-burung kembali berkicau, aroma tanah basah bercampur dengan kayu bakar bambu.
Di sela-sela kesibukan pembangunan jembatan darurat, warga saling menceritakan pengalaman mereka saat banjir datang. Ada yang kehilangan ternak, ada yang rumahnya terendam, tapi semua sepakat untuk bangkit bersama.
Kehadiran Ahmad Muzani memberi dorongan moral dan harapan konkret. Ia bukan hanya meninjau kerusakan, tetapi juga memetakan langkah nyata bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.
Rehabilitasi jalan, pembangunan jembatan permanen, mitigasi bencana, penanaman pohon hanyalah sebagian dari rencana yang tengah digulirkan.
Di atas jembatan bambu itu, harapan sudah menyeberang lebih dulu sebelum segala sesuatunya pulih sepenuhnya. Di tengah sisa lumpur, puing, dan batu, masyarakat Guci menunjukkan bahwa ketangguhan, solidaritas, dan gotong royong tetap hidup.
Guci pascabanjir bukan lagi hanya cerita tentang kerusakan, tapi tentang manusia yang mampu menemukan cahaya di tengah kegelapan.
Dari bambu yang sederhana hingga tekad yang kuat, warga Guci mengingatkan kita bahwa harapan bisa dibangun kembali, satu langkah, satu papan bambu, dan satu hati yang bersatu pada satu waktu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


