Tembakau Tegal Dilirik Industri, Mimpi Besar Petani Mulai Terbuka
Endro Nor Susilo Kabag Kesra sekaligus sebagai Plt Kepala Dinas KPTan Kabupaten Tegal dan bibit tembakau (FOTO: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)

Tembakau Tegal Dilirik Industri, Mimpi Besar Petani Mulai Terbuka

Saat industri mulai me lirik tembakau, harapan petani Tegal menguat, tapi di saat yang sama, tuntutan standar tinggi menjadi ujian baru yang tak bisa dihindari.

TIMES Tegal,Rabu 6 Mei 2026, 17:13 WIB
968
C
Cahyo Nugroho

TEGALDi ladang-ladang Kabupaten Tegal, panen tembakau tak lagi sekadar soal hasil tapi melainkan pertaruhan harga dan masa depan. 

Saat industri mulai melirik, harapan petani menguat, tapi di saat yang sama, tuntutan standar tinggi menjadi ujian baru yang tak bisa dihindari.

Di Adiwerna, Bojong, hingga Bumijawa Kabupaten Tegal, tembakau telah lama menjadi denyut kehidupan. Setiap musim panen datang dengan perasaan sama, optimisme pelan-pelan disusul kecemasan. 

Bukan soal hasil panen semata, melainkan tentang siapa yang akan membeli dan berapa harga yang akan ditentukan dan menjadi harapan para petani tembakau.

article

Selama bertahun-tahun, jawaban atas pertanyaan itu hampir selalu sama dan siap dimangsa para tengkulak.

Mereka datang cepat, menawar singkat, lalu membawa pergi hasil panen. Di tengah keterbatasan akses pasar dan risiko kerusakan daun, 

Petani kerap tak punya banyak pilihan selain menerima. Harga menjadi sesuatu yang ditentukan, bukan dinegosiasikan.

“Kalau masih tergantung tengkulak, ya rusak sudah tembakau kita,” ujar Endro Nor Susilo Kabag Kesra sekaligus sebagai Plt Kepala Dinas KPTan Kabupaten Tegal dalam kegiatan pembinaan di Aula kantor PU Kabupaten Tegal.

Di sisi lain, Umam petani tembakau asal Bumijawa yang juga mengkordinir para petani menerangkan, bahwa kesempatan maauknya industri merupakan langkah awal bangkitnya petani tembakau.

"Perusahaan besar biasanya meminta sesuai SOP mulai dari pengolahan tanam, perawatan hingga varietas tembakau tersebut, sehingga menemukan tembakau berkwalitas" ujar Umam.

Lebih lanjut, Umam menerangkan untuk tahun ini kita mulai dengan tahap tahapan awal agar tahun depan perusahaan mampu menaungi para petani tembakau di Tegal termasuk juga varietas tembakau.

Tembakau jenis Kemloko dan Kenanga Pakis dari wilayah ini perlahan mencuri perhatian. Kualitasnya dinilai stabil, bahkan sempat masuk tiga besar terbaik di tingkat provinsi. .

Sebuah pencapaian diam-diam mampu mengangkat nama Kabupaten Tegal di peta pertembakauan.

Perusahaan besar yang bergerak di bidang kretek seperti  tidak lagi sekadar mencari bahan baku, tetapi mulai membawa standar. Di sinilah cerita baru para petani tembakau dimulai sekaligus tantangan yang tak kecil.

Di dunia industri, tembakau bukan hanya soal bagus atau tidak. Ia harus konsisten.

Panen dilakukan bertahap hingga enam atau tujuh kali, daun dipilah dengan teliti, dan proses pengeringan dikontrol secara ketat. Setiap lembar daun harus memenuhi ukuran dan kualitas yang seragam.

Sementara di ladang-ladang Kabupaten  Tegal, cara lama masih bertahan. Panen tiga hingga empat kali, pengeringan mengandalkan matahari, dan rajangan belum sepenuhnya seragam. 

Cara-cara ini telah diwariskan lama secara turun temurun dan menjadi bagian dari kebiasaan yang sulit diubah sehingga dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) akan mampu menjawab kendala para petani tembakau.

Untuk menjembatani kesenjangan itu pemerintah daerah mulai bergerak.

Melalui bimbingan teknis agribisnis, petani pun diperkenalkan pada cara-cara baru panen lebih selektif, pengolahan lebih presisi, hingga pentingnya menjaga kualitas dari awal hingga akhir.

Di ruang pelatihan, para petani  duduk mendengarkan. Sebagian mencatat, sebagian lain menyimak dengan ragu. Perubahan bukan perkara mudah, apalagi ketika menyangkut cara bertani yang sudah dilakukan turun-temurun.

Jika standar industri bisa dipenuhi, pintu pasar akan terbuka lebih lebar. Harga tidak lagi sepenuhnya ditentukan di satu sisi. Petani bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat sesuatu yang selama ini terasa jauh.

Lebih dari sekadar peningkatan kualitas, ini adalah tentang perubahan arah. Dari sekadar menjual hasil panen menjadi memproduksi komoditas yang bernilai.

Musim panen akan selalu datang dan pergi. Daun-daun akan kembali menguning, dipetik, lalu dikeringkan di bawah matahari. Namun kini, ada sesuatu yang berbeda di balik rutinitas itu.

Di ladang-ladang Kabupaten Tegal, para petani mungkin masih berdiri di bawah terik yang sama. Tapi kali ini, mereka tidak hanya menunggu pembeli datang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tegal, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.