Sampah Jadi Guna, Kisah Generasi Peduli Lingkungan SMPN 1 Kramat Tegal Menjaga Bumi
Ratusan siswa kelas 7 dan 8 tidak hanya duduk mendengarkan materi kokurikuler, tetapi terlibat langsung dalam praktik pengelolaan sampah organik.
TEGAL – Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan yang semakin kompleks, langkah kecil dari sebuah sekolah di Kabupaten Tegal ini justru menghadirkan harapan baru.
SMP Negeri 1 Kramat tidak hanya sekadar menjalankan proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi menjadikannya sebagai ruang hidup untuk membentuk kesadaran lingkungan sejak dini.
Hal itu nampak jelas pada Sabtu (25/4) ketika ratusan siswa kelas 7 dan 8 tidak hanya duduk mendengarkan materi kokurikuler, tetapi terlibat langsung dalam praktik pengelolaan sampah organik.
Kegiatan bertema Sosialisasi Pembuatan Eco-Enzyme dan Pengomposan Massal ini menjadi bagian dari upaya sekolah menuju predikat Adiwiyata Mandiri.
Daun kering, sisa buah, hingga limbah dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi dipandang sebagai sampah yang harus dibuang, melainkan bahan baku yang memiliki nilai guna.
Kepala SMP Negeri 1 Kramat Tegal Hening Haryanti, menegaskan kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk memenuhi agenda kurikulum, tetapi membangun cara berpikir baru di kalangan siswa.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah bukan akhir dari sesuatu, tetapi awal dari sesuatu yang bisa diolah kembali menjadi bermanfaat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa dikenalkan pada pembuatan eco-enzyme, yakni larutan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah, gula, dan air.
Produk ini memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk cair, hingga pestisida organik ramah lingkungan.
Dan dengan pendampingan dari komunitas lingkungan, para siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan proses pembuatannya.
Hasilnya pun cukup signifikan. Dalam satu sesi kegiatan, sekolah itu pun berhasil memproduksi sekitar 14 galon eco-enzyme dengan total volume mencapai 126 liter.
Capaian ini menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan berbasis praktik yang mampu memberikan hasil nyata dan sekaligus meningkatkan keterlibatan siswa.
Selain eco-enzyme, giat pengomposan massal juga menjadi perhatian utama. Seluruh warga sekolah terlibat dalam proses pengumpulan dan pengolahan sampah organik berupa daun kering.
Siswa kelas 7 difokuskan pada praktik pengomposan, sementara siswa kelas 8 saat ini mendalami proses pembuatan eco-enzyme bersama para pendamping dari komunitas dan lembaga terkait.
Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa, tapi juga memperkuat pemahaman bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kerja sama lintas peran.
Mulai dari guru, siswa, hingga komunitas luar sekolah, semuanya memiliki kontribusi dalam menciptakan perubahan.
Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna, kini kembali ke tanah sebagai nutrisi yang menyuburkan. Dari limbah menjadi kehidupan baru bagi tanaman di lingkungan sekolah.
Guru pendamping menyebut kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam menanamkan kesadaran ekologis sekaligus mengurangi jejak karbon sekolah.
Hasil kompos yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan untuk merawat taman sekolah agar lebih hijau, asri, dan nyaman sebagai ruang belajar.
Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari strategi besar SMPN 1 Kramat membangun budaya zero waste lingkungan pendidikan.
Sekolah tidak hanya ingin mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian keberlanjutan akan lingkungan.
Hening Haryanti menambahkan bahwa target Adiwiyata Mandiri memang menjadi salah satu tujuan, namun bukan hal satu satunya.
“Penghargaan itu penting, tetapi yang lebih penting adalah perubahan perilaku. Kami ingin siswa terbiasa tidak membuang sampah sembarangan dan mampu melihat potensi dari apa yang dianggap tidak berguna,” tegasnya.
Di tengah ancaman krisis lingkungan global, langkah sederhana dari sekolah ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari ruang kecil.
Dari tangan-tangan muda yang belajar mencintai bumi melalui tindakan nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.
SMPN 1 Kramat Tegal membuktikan bahwa pendidikan lingkungan bukan hanya wacana, tetapi bisa hadir dalam bentuk aksi langsung yang memberi dampak.
Dan dari halaman sekolah itulah, harapan untuk masa depan yang lebih hijau mulai tumbuh perlahan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

