Ubaidillah salah seorang penulis Buku 'Sawitri' (Foto: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)

Menjaga Napas Tari Topeng Endel, Perjuangan Sawitri Diabadikan dalam Buku Dua Seniman Tegal

Langkah ini sebagai upaya mendokumentasikan perjalanan seorang seniman sekaligus menjaga ingatan tentang Tari Topeng Endel khas Tegal.

TIMES Tegal,Selasa 11 Agustus 2026, 15:47 WIB
134
C
Cahyo Nugroho

TEGALGerak gemulai Tari Topeng Endel tidak lahir dalam sehari. Di balik setiap langkah, lenggokan tangan, dan karakter yang dimainkan, ada proses panjang seorang seniman dalam menjaga tradisi agar tetap hidup.

Salah satu sosok yang mengabdikan hidupnya untuk kesenian khas Kabupaten Tegal itu adalah Sawitri.

Kisah perjalanan Sawitri kini diabadikan dalam buku 'Sawitri, Aku Ingin Menari Sampai Mati' karya Sigit Pamungkas dan Ubaidillah. Buku tersebut diluncurkan  pada  Selasa 11 Agustus 2026 di Gedung Lasnur, Slawi, Kabupaten Tegal

Hal ini sebagai upaya mendokumentasikan perjalanan seorang seniman sekaligus menjaga ingatan tentang Tari Topeng Endel. Acara peluncuran buku dihadiri Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Tegal  Ki Haryo Susilo dan sejumlah kerabat seniman.

Ubaidillah (56). sang penulis buku saat berbincang dengan media menjelaskan, bahwa Sawitri berasal dari Bogares. Dan sejak kecil tinggal di Slarang Lor, ia telah bersentuhan dengan kesenian. 

Perjalanan kemudian membawanya mengenal dan menekuni tari. Pada masa mudanya, ia tampil dari desa ke desa.

Pentas berpindah-pindah tak kenal lelah, menjadi bagian dari kehidupannya sebagai seniman tradisi hingga kini. Pengalaman panjang itu menjadi bagian penting dari warisan kesenian Tegal.

Sawitri tidak hanya dikenal sebagai penari. Ia juga menguasai enam jenis karakter topeng, antara lain Kresna, Kelana, Panji, dan Endel. Setiap karakter memiliki gerak dan pembawaan yang berbeda. 

Ketika topeng menutupi wajah, tubuh menjadi bahasa utama untuk menyampaikan karakter kepada penonton. Namun, perjalanan Sawitri tidak berhenti di atas panggung.

Ia juga mengajarkan tari kepada generasi muda. Dari sanggar dan ruang latihan, gerakan-gerakan Topeng Endel kembali diwariskan. Anak-anak belajar menggerakkan tangan, mengatur langkah, mengikuti irama, sekaligus memahami karakter yang dimainkan.

Menurut Ubaidillah, bahwa proses tersebut  menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui tubuh.

Anak-anak Sawitri, , turut menjadi bagian dari perjalanan pewarisan kesenian tersebut. Tradisi yang dahulu diterima Sawitri dari generasi sebelumnya kemudian diteruskan kepada keluarganya dan generasi setelahnya.

Di balik peluncuran buku tersebut, terdapat kegelisahan mengenai minimnya literasi Tari Topeng Endel. Masyarakat masih kesulitan memperoleh bahan bacaan yang membahas sejarah, filosofi, maupun perjalanan kesenian tersebut secara mendalam. 

Bahkan para seniman yang menekuninya belum tentu memiliki dokumentasi tertulis yang memadai. Kondisi itulah yang mendorong Sigit Pamungkas dan Ubaidillah membuat sebuah buku untuk Sawitri.

Ubaidillah berharap buku tersebut dapat membuat Tari Topeng Endel semakin dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Tegal. Kesenian itu diharapkan bukan hanya ditonton, tetapi juga dipelajari dan dikuasai oleh generasi muda.

Buku tersebut juga tidak semata-mata diarahkan untuk diperjualbelikan. Sekitar 50 hingga 75 eksemplar akan dibagikan kepada perpustakaan di Kabupaten Tegal, sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, buku tentang Sawitri bukan hanya cerita tentang seorang perempuan yang menari selama puluhan tahun. Ia adalah catatan tentang bagaimana sebuah tradisi bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari panggung desa, ruang latihan, hingga halaman buku, Sawitri terus menjaga napas Topeng Endel. Sebab bagi sebuah tradisi, hidup bukan sekadar masih dipentaskan.

"Tradisi benar-benar hidup ketika masih ada yang mau mempelajari, menjalankan, mewariskannya hingga merawatnya sampai akhir jaman" pungkas Ubaidillah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tegal, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.