Kepala Dinas, Kabid serta jajaran Disperpusip Kabupaten Tegal (Foto Teguh/Cahyo Nugroho FOR TIMES Indonesia)

Jejak Peradaban Menunggu Dibaca, Disperpusip Tegal Bersiap Bedah Buku dan Manuskrip

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan informasi serba instan, manuskrip-manuskrip tua itu justru mengajarkan satu hal sederhana - sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku pelajaran.

TIMES Tegal,Kamis 2 Juli 2026, 17:19 WIB
53
C
Cahyo Nugroho

TEGALDi balik dinding gedung megah dan  kokoh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Tegal (Disperpusip Tegal), tersimpan ribuan lembar arsip yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan sebuah daerah. 

Gedung yang dibangun masa kepemimpinan Bupati sebelumnya itu masih berdiri kokoh. Namun, bukan hanya bangunannya  bertahan melawan waktu. 

Di dalamnya, naskah-naskah kuno yang telah berusia ratusan tahun masih setia menyimpan kisah tentang peradaban, budaya, agama, hingga perjalanan masyarakat Tegal  belum sepenuhnya terungkap.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan informasi serba instan, manuskrip-manuskrip tua itu justru mengajarkan satu hal sederhana - sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku pelajaran. 

Ia hidup dalam lembaran kertas kusam, tinta yang mulai memudar, dan aksara Pegon maupun Hanacaraka yang kini hanya mampu dibaca segelintir orang.

Kesadaran itulah yang kini menjadi pijakan Kepala Disperpusip Tegal, Teguh Mulyadi. Baru beberapa hari dilantik, ia dan jajarannya langsung menjadikan pengkajian naskah kuno sebagai salah satu agenda prioritas. 

Baginya, menyusun sejarah Tegal tidak cukup hanya mengandalkan cerita turun-temurun atau catatan kolonial. Sejarah harus dibangun dari sumber-sumber primer yang autentik.

Langkah itu bukan pekerjaan ringan. Naskah kuno memerlukan sentuhan para filolog untuk menerjemahkan aksara, akademisi untuk mengkajinya secara ilmiah, sejarawan untuk menyusun konteks zamannya, 

Hingga pegiat sejarah yang memahami kearifan lokal. Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci agar setiap lembar manuskrip mampu berbicara kembali.

Beberapa naskah yang akan dikaji bukanlah dokumen biasa. Ada Naskah Suluk milik Gus Mujib di Danawarih yang memuat pitutur dan ajaran spiritual para wali di Tanah Jawa. 

Ada pula Naskah Suluk Astanajambu, Suluk Kalisalak, hingga Menak Amir Hamzah yang pernah ditemukan di Masjid Tua Slerok dan kini tersimpan aman di Lingkar Aksara, Margadana.

Belum lagi puluhan manuskrip Pegon Jawa berhuruf Hanacaraka menjadi koleksi Rumah Arsip Naskah Nusantara (RANU) Indonesia. Di antaranya terdapat naskah sejarah Cirebon yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Tegal, 

Manuskrip delapan juz Al-Quran beraksara Pegon dari Dukuhjati Kidul, Naskah Rambang tentang tauhid, hingga Babad Pagedongan yang diyakini menyimpan potongan kisah masa lalu daerah ini.

Setiap naskah sesungguhnya bukan sekadar benda kuno. Ia adalah potongan puzzle yang selama ini tercecer.

Ketika semua kepingan berhasil dirangkai, bukan tidak mungkin sejarah Kabupaten Tegal akan tampil lebih utuh daripada yang selama ini dikenal masyarakat.

Di banyak daerah, manuskrip kuno telah menjadi sumber penting untuk menelusuri asal-usul wilayah, silsilah tokoh, perkembangan agama, hingga jaringan perdagangan masa lampau.

Tegal pun memiliki peluang yang sama. Bahkan, sangat mungkin masih banyak fakta sejarah yang belum pernah ditulis dalam buku-buku resmi.

Ironisnya, sebagian besar naskah tersebut justru belum banyak diketahui masyarakat. Sebagian tersimpan di rumah-rumah tokoh agama, sebagian di lembaga arsip, dan lainnya masih menunggu disentuh penelitian. 

Waktu menjadi tantangan terbesar. Kertas semakin rapuh, tinta terus memudar, sementara kemampuan membaca aksara kuno semakin langka.

Kepala Disperpusip Tegal, Teguh Mulyadi menyampaikan bahwa upaya menghidupkan kembali manuskrip bukan sekadar pekerjaan akademik. Ia adalah ikhtiar menyelamatkan ingatan kolektif sebuah daerah. 

"Ketika generasi muda mulai mengenal sejarah dari sumber aslinya, mereka tidak hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga memahami jati diri yang membentuk Kabupaten Tegal hari ini." ujar Teguh Mulyadi.

Teguh meyakini bahwa sejarah besar tidak selalu ditemukan melalui penggalian candi atau penemuan artefak tapi juga melalui kajian kajian ilmiah.

Kadang, ia bersembunyi di balik rak-rak arsip yang sunyi, menunggu seseorang membuka lembar pertamanya. Dan dari sanalah, kisah tentang Tegal yang sesungguhnya perlahan mulai ditulis kembali. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tegal, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.