Langkah Nyata Bupati Tegal Selamatkan Generasi Muda dari Peredaran Tramadol
Bupati Tegal gerak cepat merespons maraknya Tramadol daftar G dengan rapat Forkopimda, edukasi film pendek di sekolah, serta penguatan peran keluarga cegah penyalahgunaan.
TEGAL – Peredaran obat keras daftar G jenis Tramadol yang diduga dijual bebas di sejumlah titik di Tegal ini membuat Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman prihatin.
Apalagi sebelumnya Wali Kota Tegal telah melakukan aksi tegas dengan membongkar sejumlah warung liar yang di duga menjual obat daftar G tersebut dan bahkan aksi ini menuai banyak dukungan dari Netizen di Media Sosial.
Tak ingin masalah ini berlarut-larut, Bupati langsung bergerak cepat. Bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), menggelar rapat koordinasi
Rapat tersebut khusus untuk membahas maraknya peredaran obat Tramadol, obat golongan opioid yang sejatinya digunakan sebagai pereda nyeri berat, namun kini disalahgunakan, terutama di kalangan pelajar dan remaja.
“Ini tidak bisa dianggap sepele. Tramadol itu obat keras, dan bukan diperjualbelikan bebas apalagi dikonsumsi sembarangan,” tegas Bupati Tegal. Nada bicaranya mencerminkan seorang pemimpin yang melihat masa depan generasi mudanya berada di persimpangan.
Langkah tegas itu tidak hanya berhenti pada peringatan. Pemerintah Kabupaten Tegal merancang strategi yang lebih komprehensif dan adaptif.
Salah satu menonjol adalah penggunaan film pendek edukatif sebagai media pembelajaran di sekolah-sekolah.
Bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) pemerintah daerah berencana memutar film-film yang menampilkan konsekuensi nyata dari penyalahgunaan obat keras, termasuk tramadol.
Film ini dirancang agar remaja dapat melihat dampak nyata dari keputusan yang tampak sepele, seperti sekadar mencoba obat karena penasaran atau ikut pergaulan.
Pendekatan ini sengaja dipilih agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima. Selama ini, edukasi tentang narkoba dan obat keras sering disampaikan melalui ceramah panjang yang kurang menyentuh dunia remaja.
Dengan medium film, siswa tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dampak emosional dari perilaku berisiko.
Menurut Bupati Ischak didampingi Wakil Bupati Ahmad Kholid saat silahturahim dengan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Tegal Rabu 1 April 2026 bahwa “Larangan tanpa pemahaman hanya akan melahirkan rasa penasaran.”
Sekolah pun didorong untuk mengambil peran lebih besar. Kepala sekolah dan guru bimbingan konseling tidak hanya diminta fokus pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran siswa terhadap bahaya obat keras.
Diskusi berbasis film di kelas menjadi pintu masuk untuk membuka percakapan yang lebih jujur tentang pilihan hidup, risiko, dan masa depan.
Namun, Bupati Tegal juga menekankan peran keluarga sebagai benteng pertama perlindungan anak. Rumah harus menjadi tempat nyaman dan penuh komunikasi.
Ketika suasana rumah hangat, anak-anak cenderung jarang mencari pelarian di luar yang kadang berujung pada hal-hal yang berisiko, termasuk penyalahgunaan mengkonsumsi Tramadol yang di jual bebas
“Jangan hanya berkumpul saat ada urusan saja” pesannya. “Kehangatan, kedekatan emosional dalam keluarga itu memiliki pengaruh besar pada kondisi mental anak-anak.” tegas Bupati Tegal.
Peredaran obat daftar G jenis Tramadol ini bukan sekadar masalah hukum. Ia juga mencerminkan celah pengawasan, edukasi yang belum merata, dan lingkungan yang belum sepenuhnya aman bagi generasi muda.
Pemerintah daerah menyadari solusi harus menyeluruh, melibatkan sekolah, orang tua, masyarakat, dan aparat penegak hukum secara bersinergi.
Dengan memadukan penindakan tegas, edukasi melalui film, dan peran aktif keluarga, Bupati Tegal berharap dapat menekan peredaran obat keras sekaligus menanamkan kesadaran sejak dini.
Ancaman sunyi seperti tramadol memang bergerak tanpa suara, tetapi dengan langkah tepat, kesadaran dapat menjadi tameng yang jauh lebih kuat daripada larangan semata.
Dari ruang rapat Forkopimda hingga layar-layar di sekolah, Kabupaten Tegal mencoba menulis bab baru perlindungan generasi mudanya.
Satu langkah, satu cerita, dan satu kesadaran pada satu waktu. Harapannya jelas, remaja di Tegal bisa tumbuh dengan pilihan yang lebih aman, tanpa tergoda oleh pil kecil dan Tramadol yang membawa risiko besar. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

