Saat Alam Murka: Banjir Bandang di Guci Tegal Ungkap Krisis Lingkungan di Lereng Gunung Slamet
Aliran sungai Lereng Gunung Slamet hanyutkan deretan Glamping dampak banjir bandang (FOTO: Cahyo Nugroho FOR TIMES Indonesia)

Saat Alam Murka: Banjir Bandang di Guci Tegal Ungkap Krisis Lingkungan di Lereng Gunung Slamet

Kawasan wisata Guci di Tetal porak-poranda diterjang banjir bandang dan longsor dari lereng Gunung Slamet. Jembatan hanyut, kolam rusak, akses terputus. Aktivis lingkungan sebut ini akibat kerusakan hutan yang berlarut.

TIMES Tegal,Sabtu 24 Januari 2026, 19:27 WIB
13.2K
C
Cahyo Nugroho

TEGAL Lereng Gunung Slamet kembali berbicara. Bukan lewat keindahan alam atau kesejukan udara pegunungan, melainkan melalui gemuruh longsor dan banjir bandang mengguncang kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Malam itu, keheningan di lereng gunung pecah oleh suara air bercampur batu dan lumpur meluncur deras dari perbukitan. Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat, 23 Januari 2026, menjadi pemicu. 

Sehari berselang, Sabtu malam, 24 Januari 2026, sungai Gung di kawasan wisata Guci tak lagi mampu menahan beban air kiriman dari hulu.

Banjir dan longsor datang bersamaan, menghantam kawasan wisata yang selama ini dikenal sebagai destinasi favorit dan ikon wisata Kabupaten Tegal pemandian air panas. 

Jembatan penghubung menuju Pancuran 13 hanyut terbawa arus. Kolam Pancuran 13 dan Kolam Barokah hingga Pancuran 5 pun rusak parah. Akses menuju Curug Jedor terputus total dan melumpuhkan aktivitas warga yang melintas.

Bagi warga sekitar, bencana ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah trauma berulang.

“Suara gemuruh airnya keras sekali, seperti membawa batu besar dari atas Gunung” tutur Suritno warga yang menggambarkan detik-detik mencekam malam itu.

Pemerintah Kabupaten Tegal bergerak cepat. Wakil Bupati Tegal, Ahmad Kholid, selaku Pelaksana Harian Bupati, turun langsung ke lokasi bersama Forkopimda, BPBD, dan dinas terkait. 

Namun di balik upaya tanggap darurat, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendasar, krisis lingkungan di hulu lereng Gunung Slamet.

Abdul Khayi, perwakilan Aliansi Peduli Lingkungan Lereng Gunung Slamet saat dihubungi menegaskan bahwa bencana ini bukan kejadian tunggal, tetapi melainkan akumulasi dari kerusakan ekosistem yang terus dibiarkan. Ia mengaku telah lama mengingatkan potensi banjir susulan.

“Kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet menjadi faktor utama. Daya serap tanah menurun akibat alih fungsi lahan. Air hujan tidak lagi tertahan, langsung turun terjun membawa material ke bawah,” tegasnya.

Menurut Khayi, jika tidak ada langkah yang serius memulihkan hutan, mengendalikan eksploitasi lahan, banjir serupa akan terus berulang, bahkan dengan skala yang lebih besar. Lereng gunung seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru berubah menjadi ancaman.

Lebih jauh, Abdul Khayi juga mengingatkan ancaman ekologis lain yang sering luput dari perhatian yakni kekeringan. Ironisnya, wilayah yang kini dilanda banjir justru berpotensi kehilangan sumber air bersih di masa depan.

“Mata air bisa hilang Kalau hutan rusak dan siklus air terganggu. Nanti bukan hanya banjir, tapi kekeringan yang akan kita hadapi,” katanya.

Pesan serupa datang dari pelaku wisata yang terdampak langsung. H. Pambudi, pemilik Wisata Guci Ku, menuturkan bahwa kerusakan bangunan masih bisa diperbaiki meski dengan biaya besar. Namun bila kehilangan sumber air adalah bencana yang jauh lebih serius.

“Bangunan bisa dibangun kembali. Tapi kalau mata air hilang, itu yang sulit didapatkan lagi.” ujarnya.

Ia menambahkan, mencari, memulihkan sumber air panas yang tertimbun batu, pasir, dan lumpur bukan perkara mudah. Prosesnya panjang, mahal, dan belum tentu berhasil.

Bencana di Guci menjadi cermin keras bahwa pembangunan dan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tanpa keseimbangan lingkungan. 

Alam memiliki batas, dan ketika batas itu dilanggar, dampaknya tak hanya merusak fasilitas, tetapi juga mengancam keberlanjutan hidup manusia itu sendiri.

Wisata Guci mungkin akan pulih. Jembatan bisa dibangun kembali, kolam renang bisa diperbaiki. Namun tanpa kesadaran kolektif untuk menjaga dan memulihkan hutan di lereng Gunung Slamet, peringatan dari alam akan terus datang, mungkin dengan cara yang lebih menyakitkan.

Di tengah reruntuhan serta genangan lumpur, Guci kini menunggu lebih sekadar perbaikan fisik. Tetapi Ia menanti kesadaran bersama, agar keindahan alam lereng Gunung Slamet yang menjadi daya tariknya tidak berubah menjadi sumber petaka di masa depan.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tegal, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.